Di malam itu, angin berhembus sedikit
kencang yang tak segan-segan merusak tatanan rambutku. Aku, Adik, Ayah dan Ibu
duduk dalam satu bantalan keras pada becak yang kami tunggangi, tentu saja aku
tidak merasakannya langsung karena pada saat itu aku dipangku ayah. Pada becak satunya ada si Mbok dan kedua adikku. Si mbok adalah pembantu kami,
dia bekerja pada keluarga kami saat umurku menginjak satu tahun. Rombongan
kecil kami melewati tengah kota hendak menuju ke tempat hiburan malam yang
hanya diadakan satu tahun sekali oleh pemerintah. Di atas becak ayah membuka
candanya “nak, bokongmu kok tajam sekali ?. Hahaha. . .” ya, saat itu aku memang
kurus sehingga tulang bokongku menyakiti paha ayah. Aku tidak menganggap itu
sebagai keluhan, tapi sebagai candaan ringan dari ayah.
Sepanjang perjalanan aku selalu
memperhatikan rembulan, pertanyaan pun muncul ketika aku menegakkan kepalaku ke
langit, “kenapa bulan itu selalu mengikutiku? Kalau bulan mengikutiku apakah
bulan meninggalkan rumahku?”. Pertanyaan itu tidak aku tanyakan pada ayah
maupun ibu, aku simpan sendiri sampai aku besar dan menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Kalau di
ingat-ingat Pada saat itu usiaku sekitar 10 tahunan, bisa saja lebih atau
kurang karena dulu aku tidak pernah memperhatikan umurku.
Abang becak mulai menghentikan laju
becaknya. Sampai juga aku dan keluargaku di tempat hiburan malam. ibu mengantri
membeli tiket sedangkan ayah menjaga kami. Ramai sekali suasana disini, Aku
melihat anak kecil menangis, meminta kepada orang tuanya untuk membelikannya
sebuah balon, tangisan anak itu semakin menjadi ketika orang tuanya memaksanya
untuk pulang tanpa membelikannya. pertanyaanku muncul lagi,” kenapa tidak
dibelikan saja balon itu? Kenapa lebih dibiarkan menangis anak kecil itu?”. aku
simpan sendiri pertanyaanku, mungkin karena takut untuk aku tanyakan kepada
orang tua itu.
Dengan penuh sesak akhirya kami masuk
melalui pintu yang dijaga oleh bapak-bapak berseragam cokelat., wajahnya
sedikit menakutkan dengan teriakan-teriakannya. Dan akhirnya, Ini dia yang
dinamakan hiburan malam. Banyak sekali permainan buat anak-anak sampai orang
dewasa. Ibu mengajak kami pergi ke suatu tempat dimana kami bisa mendapatkan
hadiah bila mendapatkannya. Ibu mengeluarkan uang untuk kami agar bisa bermain,
tapi kami tidak pernah menang. Entah berapa banyak uang yang ibu keluarkan
untuk kesenangan anak-anaknya. Tersentak dalam pikiranku, aku rasa aku menemukan
jawaban atas tangisan anak di luar tadi. Meski sebatas mereka-reka tanpa tahu
jawaban pastinya. Aku mulai berpikir, mungkin kedua orang tua itu sudah banyak
menghabiskan uangnya didalam tempat hiburan malam ini, sehingga mereka tidak
mampu lagi membelikannya mainan di luar, meski hanya sebuah balon.
Ibu, seberapa banyak aku menghabiskan
uangmu? Ayah, mengapa engkau mengajak kami pada tempat seperti ini? Saat itu
akupun menyesal telah menghbiskan uang yang ibu keluarkan untukku, ingin sekali
aku meminta maaf tapi aku tidak
mengatakannya, aku hanya melihat wajah ayah dan ibu bahagia, aku merasa mereka telah
memaafkanku atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka bahagia? Aku tidak
pernah tahu jawabannya, mungkin karena aku tidak pernah mencoba menanyakannya. Yang jelas suatu saat kebenaran jawaban itu pasti muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar