Sabtu, 13 Juli 2013

Tanyaku ?

Di malam itu, angin berhembus sedikit kencang yang tak segan-segan merusak tatanan rambutku. Aku, Adik, Ayah dan Ibu duduk dalam satu bantalan keras pada becak yang kami tunggangi, tentu saja aku tidak merasakannya langsung karena pada saat itu aku dipangku ayah. Pada becak satunya ada si Mbok dan kedua adikku. Si mbok adalah pembantu kami, dia bekerja pada keluarga kami saat umurku menginjak satu tahun. Rombongan kecil kami melewati tengah kota hendak menuju ke tempat hiburan malam yang hanya diadakan satu tahun sekali oleh pemerintah. Di atas becak ayah membuka candanya “nak, bokongmu kok tajam sekali ?. Hahaha. . .” ya, saat itu aku memang kurus sehingga tulang bokongku menyakiti paha ayah. Aku tidak menganggap itu sebagai keluhan, tapi sebagai candaan ringan dari ayah.

Sepanjang perjalanan aku selalu memperhatikan rembulan, pertanyaan pun muncul ketika aku menegakkan kepalaku ke langit, “kenapa bulan itu selalu mengikutiku? Kalau bulan mengikutiku apakah bulan meninggalkan rumahku?”. Pertanyaan itu tidak aku tanyakan pada ayah maupun ibu, aku simpan sendiri sampai aku besar dan menemukan jawaban  atas pertanyaanku sendiri. Kalau di ingat-ingat Pada saat itu usiaku sekitar 10 tahunan, bisa saja lebih atau kurang karena dulu aku tidak pernah memperhatikan umurku.

Abang becak mulai menghentikan laju becaknya. Sampai juga aku dan keluargaku di tempat hiburan malam. ibu mengantri membeli tiket sedangkan ayah menjaga kami. Ramai sekali suasana disini, Aku melihat anak kecil menangis, meminta kepada orang tuanya untuk membelikannya sebuah balon, tangisan anak itu semakin menjadi ketika orang tuanya memaksanya untuk pulang tanpa membelikannya. pertanyaanku muncul lagi,” kenapa tidak dibelikan saja balon itu? Kenapa lebih dibiarkan menangis anak kecil itu?”. aku simpan sendiri pertanyaanku, mungkin karena takut untuk aku tanyakan kepada orang tua itu.     

Dengan penuh sesak akhirya kami masuk melalui pintu yang dijaga oleh bapak-bapak berseragam cokelat., wajahnya sedikit menakutkan dengan teriakan-teriakannya. Dan akhirnya, Ini dia yang dinamakan hiburan malam. Banyak sekali permainan buat anak-anak sampai orang dewasa. Ibu mengajak kami pergi ke suatu tempat dimana kami bisa mendapatkan hadiah bila mendapatkannya. Ibu mengeluarkan uang untuk kami agar bisa bermain, tapi kami tidak pernah menang. Entah berapa banyak uang yang ibu keluarkan untuk kesenangan anak-anaknya. Tersentak dalam pikiranku, aku rasa aku menemukan jawaban atas tangisan anak di luar tadi. Meski sebatas mereka-reka tanpa tahu jawaban pastinya. Aku mulai berpikir, mungkin kedua orang tua itu sudah banyak menghabiskan uangnya didalam tempat hiburan malam ini, sehingga mereka tidak mampu lagi membelikannya mainan di luar, meski hanya sebuah balon.


Ibu, seberapa banyak aku menghabiskan uangmu? Ayah, mengapa engkau mengajak kami pada tempat seperti ini? Saat itu akupun menyesal telah menghbiskan uang yang ibu keluarkan untukku, ingin sekali aku meminta maaf  tapi aku tidak mengatakannya, aku hanya melihat wajah ayah dan ibu bahagia, aku merasa mereka telah memaafkanku atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka bahagia? Aku tidak pernah tahu jawabannya, mungkin karena aku tidak pernah mencoba menanyakannya. Yang jelas suatu saat kebenaran jawaban itu pasti muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar