Manusia mengenal hidup sebagai anugerah dan sebagai bencana, semua atas perjalanan yang telah mereka lalui. Mereka yang menyebutnya sebagai anugerah adalah mereka yang melaluinya dengan segala kesenangan, tawa dan kemudahan. sedangkan mereka yang menyebutnya sebagai bencana adalah mereka yang tak pernah merasakan kasih sayang, kesempatan dan penuh derita.
Dua warna kontras yang jelas sekali kita lihat perbedaannya, membentuk sebuah garis tebal yang tidak dapat dilompati.
Tak heran banyak pertanyaan yang muncul dari pemikiran kita, apakah mereka mau untuk dihidupkan dengan kesempatan yang berbeda? Tentu saja mereka sama-sama mau, anugerah ingin sekali melengkapi kesempurnaannya meski mereka tidak pernah sempurna. Dan si bencana, mereka ingin sekali hidup dengan kesempatan yang lain untuk memperbaiki semua kesalahannya.
Manusia tidak pernah bersyukur atas setiap nafas mereka, manusia adalah makhluk yang selalu kekurangan. Nafsu menjadi raja yang haus akan kekuasaan, dia menguasai hati dan pikiran. saat dia murka tak ada yang berani menasehatinya. Nafsu adalah raja perang yang tak segan-segan menghabisi tentaranya sendiri.
Kesenangan dan penderitaan adalah cobaan dari Sang Tuhan. Anugerah mungkin tidak sadar dengan segala kesenangannya mereka terperangkap dalam kenikmatan setan, dan bencana yang selalu menderita seakan terobsesi untuk mendapatkan Tuhan baru (kesenangan). renungkanlah hidup kita sebelum terbuai dengan segala muslihat dunia!.