Minggu, 06 Oktober 2013

Tentang Hidup

Manusia mengenal hidup sebagai anugerah dan sebagai bencana, semua atas perjalanan yang telah mereka lalui. Mereka yang menyebutnya sebagai anugerah adalah mereka yang melaluinya dengan segala kesenangan, tawa dan kemudahan. sedangkan mereka yang menyebutnya sebagai bencana adalah mereka yang tak pernah merasakan kasih sayang, kesempatan dan penuh derita.
Dua warna kontras yang jelas sekali kita lihat perbedaannya, membentuk sebuah garis tebal yang tidak dapat dilompati.
Tak heran banyak pertanyaan yang muncul dari pemikiran kita, apakah mereka mau untuk dihidupkan dengan kesempatan yang berbeda? Tentu saja mereka sama-sama mau, anugerah ingin sekali melengkapi kesempurnaannya meski mereka tidak pernah sempurna. Dan si bencana, mereka ingin sekali hidup dengan kesempatan yang lain untuk memperbaiki semua kesalahannya.
Manusia tidak pernah bersyukur atas setiap nafas mereka, manusia adalah makhluk yang selalu kekurangan. Nafsu menjadi raja yang haus akan kekuasaan, dia menguasai hati dan pikiran. saat dia murka tak ada yang berani menasehatinya. Nafsu adalah raja perang yang tak segan-segan menghabisi tentaranya sendiri.
Kesenangan dan penderitaan adalah cobaan dari Sang Tuhan. Anugerah mungkin tidak sadar dengan segala kesenangannya mereka terperangkap dalam kenikmatan setan, dan bencana yang selalu menderita seakan terobsesi untuk mendapatkan Tuhan baru (kesenangan). renungkanlah hidup kita sebelum terbuai dengan segala muslihat dunia!.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tanyaku ?

Di malam itu, angin berhembus sedikit kencang yang tak segan-segan merusak tatanan rambutku. Aku, Adik, Ayah dan Ibu duduk dalam satu bantalan keras pada becak yang kami tunggangi, tentu saja aku tidak merasakannya langsung karena pada saat itu aku dipangku ayah. Pada becak satunya ada si Mbok dan kedua adikku. Si mbok adalah pembantu kami, dia bekerja pada keluarga kami saat umurku menginjak satu tahun. Rombongan kecil kami melewati tengah kota hendak menuju ke tempat hiburan malam yang hanya diadakan satu tahun sekali oleh pemerintah. Di atas becak ayah membuka candanya “nak, bokongmu kok tajam sekali ?. Hahaha. . .” ya, saat itu aku memang kurus sehingga tulang bokongku menyakiti paha ayah. Aku tidak menganggap itu sebagai keluhan, tapi sebagai candaan ringan dari ayah.

Sepanjang perjalanan aku selalu memperhatikan rembulan, pertanyaan pun muncul ketika aku menegakkan kepalaku ke langit, “kenapa bulan itu selalu mengikutiku? Kalau bulan mengikutiku apakah bulan meninggalkan rumahku?”. Pertanyaan itu tidak aku tanyakan pada ayah maupun ibu, aku simpan sendiri sampai aku besar dan menemukan jawaban  atas pertanyaanku sendiri. Kalau di ingat-ingat Pada saat itu usiaku sekitar 10 tahunan, bisa saja lebih atau kurang karena dulu aku tidak pernah memperhatikan umurku.

Abang becak mulai menghentikan laju becaknya. Sampai juga aku dan keluargaku di tempat hiburan malam. ibu mengantri membeli tiket sedangkan ayah menjaga kami. Ramai sekali suasana disini, Aku melihat anak kecil menangis, meminta kepada orang tuanya untuk membelikannya sebuah balon, tangisan anak itu semakin menjadi ketika orang tuanya memaksanya untuk pulang tanpa membelikannya. pertanyaanku muncul lagi,” kenapa tidak dibelikan saja balon itu? Kenapa lebih dibiarkan menangis anak kecil itu?”. aku simpan sendiri pertanyaanku, mungkin karena takut untuk aku tanyakan kepada orang tua itu.     

Dengan penuh sesak akhirya kami masuk melalui pintu yang dijaga oleh bapak-bapak berseragam cokelat., wajahnya sedikit menakutkan dengan teriakan-teriakannya. Dan akhirnya, Ini dia yang dinamakan hiburan malam. Banyak sekali permainan buat anak-anak sampai orang dewasa. Ibu mengajak kami pergi ke suatu tempat dimana kami bisa mendapatkan hadiah bila mendapatkannya. Ibu mengeluarkan uang untuk kami agar bisa bermain, tapi kami tidak pernah menang. Entah berapa banyak uang yang ibu keluarkan untuk kesenangan anak-anaknya. Tersentak dalam pikiranku, aku rasa aku menemukan jawaban atas tangisan anak di luar tadi. Meski sebatas mereka-reka tanpa tahu jawaban pastinya. Aku mulai berpikir, mungkin kedua orang tua itu sudah banyak menghabiskan uangnya didalam tempat hiburan malam ini, sehingga mereka tidak mampu lagi membelikannya mainan di luar, meski hanya sebuah balon.


Ibu, seberapa banyak aku menghabiskan uangmu? Ayah, mengapa engkau mengajak kami pada tempat seperti ini? Saat itu akupun menyesal telah menghbiskan uang yang ibu keluarkan untukku, ingin sekali aku meminta maaf  tapi aku tidak mengatakannya, aku hanya melihat wajah ayah dan ibu bahagia, aku merasa mereka telah memaafkanku atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka bahagia? Aku tidak pernah tahu jawabannya, mungkin karena aku tidak pernah mencoba menanyakannya. Yang jelas suatu saat kebenaran jawaban itu pasti muncul.

Kamis, 04 Juli 2013

Rumi

Di hari kematianku, bila usungan mayatku mulai bergerak;
Jangan sangka kutinggalkan dunia ini penuh derita.
Jangan ratapi aku, jangan berseru "Aduh, aduh!"
Kau akan terjerumus pada perangkap setan, itulah yang harus kauadukan.

Bila kaulihat kereta jenazahku lewat, jangan katakan "Telah berpisah! Telah berpisah!"
Waktu itu bagiku adalah saat bersatu dan berhadap-hadapan.
Ketika jenazahku kau baringkan di dalam makam, jangan berkata "Selamat jalan, selamat jalan!"
Makam bagiku adalah tirai buat bersatu kembali dengan surga.

Yang timbul-tenggelam telah kau saksikan;
Betapa matahari dan bulan 'kan luka, bila ditaruh pada tempatnya?
Bagimu matahari tampak tenggelam, padahal dia kini sedang terbit;
Bagimu makam tampak bagai penjara, tapi bagi jiwa makam adalah pembebasan.
Benih apa takkan tumbuh bila semai di bumi?
Mengapa kau ragu pada benih kemanusiaan?
Titik apa yang tercurah dan turun sebagian saja?
Mengapa perigi ini mengaduh ketika Yusuf jiwa datang di dekatnya?
Bila kau tutup mulutmu di tempat ini, di tempat lain akan terbuka,
Dandang kemenanganmu 'kan menggema, di ruang hampa.


(Senandung ini saya dapat di buku "Renungan Mistik Jalal Ad-Din Rumi" karya R. Mulyadhi Kartanegara, Pustaka Jaya)