Di hari kematianku, bila usungan mayatku mulai bergerak;
Jangan sangka kutinggalkan dunia ini penuh derita.
Jangan ratapi aku, jangan berseru "Aduh, aduh!"
Kau akan terjerumus pada perangkap setan, itulah yang harus kauadukan.
Bila kaulihat kereta jenazahku lewat, jangan katakan "Telah berpisah! Telah berpisah!"
Waktu itu bagiku adalah saat bersatu dan berhadap-hadapan.
Ketika jenazahku kau baringkan di dalam makam, jangan berkata "Selamat jalan, selamat jalan!"
Makam bagiku adalah tirai buat bersatu kembali dengan surga.
Yang timbul-tenggelam telah kau saksikan;
Betapa matahari dan bulan 'kan luka, bila ditaruh pada tempatnya?
Bagimu matahari tampak tenggelam, padahal dia kini sedang terbit;
Bagimu makam tampak bagai penjara, tapi bagi jiwa makam adalah pembebasan.
Benih apa takkan tumbuh bila semai di bumi?
Mengapa kau ragu pada benih kemanusiaan?
Titik apa yang tercurah dan turun sebagian saja?
Mengapa perigi ini mengaduh ketika Yusuf jiwa datang di dekatnya?
Bila kau tutup mulutmu di tempat ini, di tempat lain akan terbuka,
Dandang kemenanganmu 'kan menggema, di ruang hampa.
(Senandung ini saya dapat di buku "Renungan Mistik Jalal Ad-Din Rumi" karya R. Mulyadhi Kartanegara, Pustaka Jaya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar