Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang hidup, apalagi hal yang mengenai tentang kebenaran.
Apa artinya sebuah kebenaran dari sepasang telinga tanpa sebuah mata? dan,
Apa artinya sebuah kebenaran dari sepasang mata tanpa sepenggal kata?
Kebenaran merupakan eksistensi sepasang mata, meski kebenaran terkadang mengelabuhinya.
Lantas, bagaimana mata melihat Tuhan? bukankah mata tak mampu melampaui eksistensi-Nya?
Banyak orang menutup mata karena kebenaran begitu menyakitkan,
namun banyak orang ingin membuka matanya karena kemunafikan begitu menyedihkan.
Melihat maupun terpejam Tuhan akan sampaikan kebenaran-Nya.
Seberapa keras kita menghindarinya kebenaran akan tetap terlihat. karena kebenaran adalah Tangan kanan Sang Tuhan!.
PARADISE
Keindahan dalam dunia fantasi
Minggu, 08 Juni 2014
Kamis, 10 April 2014
Surga
Bila semua yang kau dengar itu adalah tentangku, anggap saja semuanya benar.
Biarkan orang lain menjadi pendongeng yang mengantar tidurmu, dan biarkan seseorang memadamkan lilinnya.
Ketika Surga menolak membukakan pintu untukku, bukankah itu suatu bukti ketidaksempurnaanku?
apa gunanya penjelasan bila hanya ingin merubah cerita dari dongeng sebelumnya? yang ada hanya merusak tidurnya.
Surga sangat tahu untuk siapa saja pintunya dibuka, dan surga tahu tentang ketidak benaran yang selalu menyelimutiku.
Bila seseorang menertawakanku karena sujudku dengan lumuran dosa di depan surga, aku terima.
Surga semakin tak menyentuhku, dia pergi dengan segala cahaya keindahannya. Menyalahkan seseorang hanyalah penjelasan kebodohan belaka.
hanya Ilahi yang mampu membersihkan dosa-dosaku dan semoga surga juga mau menerima pengampunanku.
Biarkan orang lain menjadi pendongeng yang mengantar tidurmu, dan biarkan seseorang memadamkan lilinnya.
Ketika Surga menolak membukakan pintu untukku, bukankah itu suatu bukti ketidaksempurnaanku?
apa gunanya penjelasan bila hanya ingin merubah cerita dari dongeng sebelumnya? yang ada hanya merusak tidurnya.
Surga sangat tahu untuk siapa saja pintunya dibuka, dan surga tahu tentang ketidak benaran yang selalu menyelimutiku.
Bila seseorang menertawakanku karena sujudku dengan lumuran dosa di depan surga, aku terima.
Surga semakin tak menyentuhku, dia pergi dengan segala cahaya keindahannya. Menyalahkan seseorang hanyalah penjelasan kebodohan belaka.
hanya Ilahi yang mampu membersihkan dosa-dosaku dan semoga surga juga mau menerima pengampunanku.
Minggu, 06 Oktober 2013
Tentang Hidup
Manusia mengenal hidup sebagai anugerah dan sebagai bencana, semua atas perjalanan yang telah mereka lalui. Mereka yang menyebutnya sebagai anugerah adalah mereka yang melaluinya dengan segala kesenangan, tawa dan kemudahan. sedangkan mereka yang menyebutnya sebagai bencana adalah mereka yang tak pernah merasakan kasih sayang, kesempatan dan penuh derita.
Dua warna kontras yang jelas sekali kita lihat perbedaannya, membentuk sebuah garis tebal yang tidak dapat dilompati.
Tak heran banyak pertanyaan yang muncul dari pemikiran kita, apakah mereka mau untuk dihidupkan dengan kesempatan yang berbeda? Tentu saja mereka sama-sama mau, anugerah ingin sekali melengkapi kesempurnaannya meski mereka tidak pernah sempurna. Dan si bencana, mereka ingin sekali hidup dengan kesempatan yang lain untuk memperbaiki semua kesalahannya.
Manusia tidak pernah bersyukur atas setiap nafas mereka, manusia adalah makhluk yang selalu kekurangan. Nafsu menjadi raja yang haus akan kekuasaan, dia menguasai hati dan pikiran. saat dia murka tak ada yang berani menasehatinya. Nafsu adalah raja perang yang tak segan-segan menghabisi tentaranya sendiri.
Kesenangan dan penderitaan adalah cobaan dari Sang Tuhan. Anugerah mungkin tidak sadar dengan segala kesenangannya mereka terperangkap dalam kenikmatan setan, dan bencana yang selalu menderita seakan terobsesi untuk mendapatkan Tuhan baru (kesenangan). renungkanlah hidup kita sebelum terbuai dengan segala muslihat dunia!.
Dua warna kontras yang jelas sekali kita lihat perbedaannya, membentuk sebuah garis tebal yang tidak dapat dilompati.
Tak heran banyak pertanyaan yang muncul dari pemikiran kita, apakah mereka mau untuk dihidupkan dengan kesempatan yang berbeda? Tentu saja mereka sama-sama mau, anugerah ingin sekali melengkapi kesempurnaannya meski mereka tidak pernah sempurna. Dan si bencana, mereka ingin sekali hidup dengan kesempatan yang lain untuk memperbaiki semua kesalahannya.
Manusia tidak pernah bersyukur atas setiap nafas mereka, manusia adalah makhluk yang selalu kekurangan. Nafsu menjadi raja yang haus akan kekuasaan, dia menguasai hati dan pikiran. saat dia murka tak ada yang berani menasehatinya. Nafsu adalah raja perang yang tak segan-segan menghabisi tentaranya sendiri.
Kesenangan dan penderitaan adalah cobaan dari Sang Tuhan. Anugerah mungkin tidak sadar dengan segala kesenangannya mereka terperangkap dalam kenikmatan setan, dan bencana yang selalu menderita seakan terobsesi untuk mendapatkan Tuhan baru (kesenangan). renungkanlah hidup kita sebelum terbuai dengan segala muslihat dunia!.
Sabtu, 13 Juli 2013
Tanyaku ?
Di malam itu, angin berhembus sedikit
kencang yang tak segan-segan merusak tatanan rambutku. Aku, Adik, Ayah dan Ibu
duduk dalam satu bantalan keras pada becak yang kami tunggangi, tentu saja aku
tidak merasakannya langsung karena pada saat itu aku dipangku ayah. Pada becak satunya ada si Mbok dan kedua adikku. Si mbok adalah pembantu kami,
dia bekerja pada keluarga kami saat umurku menginjak satu tahun. Rombongan
kecil kami melewati tengah kota hendak menuju ke tempat hiburan malam yang
hanya diadakan satu tahun sekali oleh pemerintah. Di atas becak ayah membuka
candanya “nak, bokongmu kok tajam sekali ?. Hahaha. . .” ya, saat itu aku memang
kurus sehingga tulang bokongku menyakiti paha ayah. Aku tidak menganggap itu
sebagai keluhan, tapi sebagai candaan ringan dari ayah.
Sepanjang perjalanan aku selalu
memperhatikan rembulan, pertanyaan pun muncul ketika aku menegakkan kepalaku ke
langit, “kenapa bulan itu selalu mengikutiku? Kalau bulan mengikutiku apakah
bulan meninggalkan rumahku?”. Pertanyaan itu tidak aku tanyakan pada ayah
maupun ibu, aku simpan sendiri sampai aku besar dan menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Kalau di
ingat-ingat Pada saat itu usiaku sekitar 10 tahunan, bisa saja lebih atau
kurang karena dulu aku tidak pernah memperhatikan umurku.
Abang becak mulai menghentikan laju
becaknya. Sampai juga aku dan keluargaku di tempat hiburan malam. ibu mengantri
membeli tiket sedangkan ayah menjaga kami. Ramai sekali suasana disini, Aku
melihat anak kecil menangis, meminta kepada orang tuanya untuk membelikannya
sebuah balon, tangisan anak itu semakin menjadi ketika orang tuanya memaksanya
untuk pulang tanpa membelikannya. pertanyaanku muncul lagi,” kenapa tidak
dibelikan saja balon itu? Kenapa lebih dibiarkan menangis anak kecil itu?”. aku
simpan sendiri pertanyaanku, mungkin karena takut untuk aku tanyakan kepada
orang tua itu.
Dengan penuh sesak akhirya kami masuk
melalui pintu yang dijaga oleh bapak-bapak berseragam cokelat., wajahnya
sedikit menakutkan dengan teriakan-teriakannya. Dan akhirnya, Ini dia yang
dinamakan hiburan malam. Banyak sekali permainan buat anak-anak sampai orang
dewasa. Ibu mengajak kami pergi ke suatu tempat dimana kami bisa mendapatkan
hadiah bila mendapatkannya. Ibu mengeluarkan uang untuk kami agar bisa bermain,
tapi kami tidak pernah menang. Entah berapa banyak uang yang ibu keluarkan
untuk kesenangan anak-anaknya. Tersentak dalam pikiranku, aku rasa aku menemukan
jawaban atas tangisan anak di luar tadi. Meski sebatas mereka-reka tanpa tahu
jawaban pastinya. Aku mulai berpikir, mungkin kedua orang tua itu sudah banyak
menghabiskan uangnya didalam tempat hiburan malam ini, sehingga mereka tidak
mampu lagi membelikannya mainan di luar, meski hanya sebuah balon.
Ibu, seberapa banyak aku menghabiskan
uangmu? Ayah, mengapa engkau mengajak kami pada tempat seperti ini? Saat itu
akupun menyesal telah menghbiskan uang yang ibu keluarkan untukku, ingin sekali
aku meminta maaf tapi aku tidak
mengatakannya, aku hanya melihat wajah ayah dan ibu bahagia, aku merasa mereka telah
memaafkanku atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka bahagia? Aku tidak
pernah tahu jawabannya, mungkin karena aku tidak pernah mencoba menanyakannya. Yang jelas suatu saat kebenaran jawaban itu pasti muncul.
Kamis, 04 Juli 2013
Rumi
Di hari kematianku, bila usungan mayatku mulai bergerak;
Jangan sangka kutinggalkan dunia ini penuh derita.
Jangan ratapi aku, jangan berseru "Aduh, aduh!"
Kau akan terjerumus pada perangkap setan, itulah yang harus kauadukan.
Bila kaulihat kereta jenazahku lewat, jangan katakan "Telah berpisah! Telah berpisah!"
Waktu itu bagiku adalah saat bersatu dan berhadap-hadapan.
Ketika jenazahku kau baringkan di dalam makam, jangan berkata "Selamat jalan, selamat jalan!"
Makam bagiku adalah tirai buat bersatu kembali dengan surga.
Yang timbul-tenggelam telah kau saksikan;
Betapa matahari dan bulan 'kan luka, bila ditaruh pada tempatnya?
Bagimu matahari tampak tenggelam, padahal dia kini sedang terbit;
Bagimu makam tampak bagai penjara, tapi bagi jiwa makam adalah pembebasan.
Benih apa takkan tumbuh bila semai di bumi?
Mengapa kau ragu pada benih kemanusiaan?
Titik apa yang tercurah dan turun sebagian saja?
Mengapa perigi ini mengaduh ketika Yusuf jiwa datang di dekatnya?
Bila kau tutup mulutmu di tempat ini, di tempat lain akan terbuka,
Dandang kemenanganmu 'kan menggema, di ruang hampa.
(Senandung ini saya dapat di buku "Renungan Mistik Jalal Ad-Din Rumi" karya R. Mulyadhi Kartanegara, Pustaka Jaya)
Jangan sangka kutinggalkan dunia ini penuh derita.
Jangan ratapi aku, jangan berseru "Aduh, aduh!"
Kau akan terjerumus pada perangkap setan, itulah yang harus kauadukan.
Bila kaulihat kereta jenazahku lewat, jangan katakan "Telah berpisah! Telah berpisah!"
Waktu itu bagiku adalah saat bersatu dan berhadap-hadapan.
Ketika jenazahku kau baringkan di dalam makam, jangan berkata "Selamat jalan, selamat jalan!"
Makam bagiku adalah tirai buat bersatu kembali dengan surga.
Yang timbul-tenggelam telah kau saksikan;
Betapa matahari dan bulan 'kan luka, bila ditaruh pada tempatnya?
Bagimu matahari tampak tenggelam, padahal dia kini sedang terbit;
Bagimu makam tampak bagai penjara, tapi bagi jiwa makam adalah pembebasan.
Benih apa takkan tumbuh bila semai di bumi?
Mengapa kau ragu pada benih kemanusiaan?
Titik apa yang tercurah dan turun sebagian saja?
Mengapa perigi ini mengaduh ketika Yusuf jiwa datang di dekatnya?
Bila kau tutup mulutmu di tempat ini, di tempat lain akan terbuka,
Dandang kemenanganmu 'kan menggema, di ruang hampa.
(Senandung ini saya dapat di buku "Renungan Mistik Jalal Ad-Din Rumi" karya R. Mulyadhi Kartanegara, Pustaka Jaya)
Langganan:
Postingan (Atom)